Pentingnya Literasi Keuangan untuk Anak

Diterbitkan pada 24 Mei 2022 

Apakah Sobat Principal di sini ada yang sedang menanti kelahiran anak atau malah sudah menjadi orangtua? Apakah kamu sudah mulai berpikir untuk mengajari anak mengenai literasi keuangan sejak dini? Literasi keuangan ini penting lho supaya anak memiliki pengetahuan mengenai uang dan bagaimana cara mengelolanya.

Pengertian literasi sendiri adalah dasar atau pondasi utama yang berhubungan dengan kemampuan bahasa dan komunikasi. Anak perlu diajarkan mengenai literasi sejak dini untuk menambah wawasan, sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Literasi tersebut tidak hanya yang berkaitan dengan pendidikan, namun juga keuangan.

Sayangnya, kemampuan literasi anak di Indonesia masih termasuk rendah, sehingga dibutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Untuk itu, sudah saatnya kamu para orangtua masa kini yang bergerak untuk meningkatkan literasi generasi penerus bangsa. Dalam artikel ini, secara khusus akan dibahas mengenai pentingnya literasi keuangan bagi anak.
 
Dilansir dari popmama.com, literasi keuangan dibutuhkan untuk membantu anak menyadari dan memahami cara mengelola keuangan dengan bijak serta sesuai kebutuhan. Literasi keuangan juga bermanfaat untuk mendorong anak mengamankan masa depannya, mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta belajar mengontrol diri sekaligus menghindari gangguan mental saat dewasa.
 
Peran Orangtua
Kamu pasti sering mendengar bahwa anak itu seperti spons, ia menyerap semua yang diamati dan menirunya. Karenanya, kamu bisa mulai mengenalkan konsep keuangan sederhana yang dapat dipahami anak melalui kegiatan sehari-hari, seperti belanja kebutuhan keluarga dan mengamati proses pembayaran di kasir. Hal ini bisa dijadikan momen untuk menjelaskan konsep dasar mengenai uang. 
 
Berikut beberapa kegiatan yang juga bisa dilakukan untuk mengajarkan literasi keuangan pada anak.
 

  1. Gunakanlah buku atau mainan untuk membahas konsep mengenai uang. Ajak ia bermain role play menjadi kasir dan pembeli atau memainkan monopoli. Kenalkan ia dengan berbagai kosakata yang berhubungan dengan keuangan, seperti jual, beli, gaji, menabung, modal, dan lainnya.
  2. Ajari anak cara untuk membuat anggaran keuangan. Biarkan ia melihat cara Sobat Principal dalam mengatur uang, seperti saat membuat anggaran bulanan. Semakin sering anak melihat ayah dan ibunya mengelola keuangan secara teratur, ia pun akan merasa hal itu juga penting bagi dirinya.
  3. Mulailah mengajari anak menabung secara konsisten sejak dini. Berikan ia celengan dengan bentuk karakter favoritnya. Kebiasaan memasukkan uang ke celengan ini dapat menjadi sarana untuk membentuk kebiasaan menabung di masa depan.
  4. Ajak anak untuk berdiskusi mengenai apa saja yang menjadi kebutuhan dan keinginannya. Berikan pemahaman dan batasan mengenai apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Tentunya, dengan cara yang sederhana dan bahasa yang mudah dimengerti, ya! 
  5. Berikan kesempatan kepada anak untuk mendapatkan uang ekstra dengan melakukan pekerjaan rumah yang sederhana. Misalnya, membuang sampah, mengelap piring yang baru dicuci, merapikan meja makan, dan lainnya. Berikan stiker yang dapat ditukar dengan koin setiap minggunya. Hal ini secara tidak langsung akan mengajarinya memahami konsep keuangan.

 
Tidak Hanya Soal Nilai Uang
Dilansir dari parenting.com, hingga saat ini masih sedikit sekali masyarakat Indonesia yang memiliki perencanaan keuangan yang baik. Apalagi, pada kaum milenial dan Gen Z yang mayoritas lebih banyak menghabiskan uang untuk belanja dibandingkan menabung untuk mencapai kesejahteraan finansial. Ironis banget, kan?
 
Kondisi tersebut bisa jadi semakin buruk mengingat literasi keuangan yang diajarkan kepada anak-anak masih sebatas pengenalan nilai uang, belum sampai pada konsep pengelolaannya. Padahal, literasi keuangan justru memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan kepada anak.  
 
Di Indonesia, anak usia 7 tahun memang sudah mulai mengerti mengenai finansial, namun masih terbatas pada nominal atau nilai uang saja. Fakta lain menyebutkan anak usia 10 tahun sudah terbiasa menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan bukan kebutuhan. Jika dibiarkan terus, hal ini tentu akan membentuk anak menjadi pribadi yang boros dan konsumtif.
 
Untuk itu, mengajarkan literasi keuangan sejak dini kepada anak pun menjadi PR kita bersama. Jika anak sudah mengerti literasi keuangan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, ia akan mengelola keuangan dengan baik. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu mengatur finansialnya secara bijak dan tepat sasaran.
 
 
 

Saya memahami dan mengizinkan pengumpulan, penggunaan, dan pengungkapan data saya untuk tujuan terkait.