Diterbitkan pada 5 Mar 2021

Untuk mengetahui kondisi keuangan seseorang adalah dengan melakukan finansial check up. Apa saja yang indikator-indikator penting ketika melakukan finansial check up?

 

Keuangan pribadi yang sehat adalah kunci utama agar kamu bisa mewujudkan kesejahteraan dan kemerdekaan finansial. Banyak orang merasa keuangan mereka sudah cukup sehat ketika memiliki banyak uang di rekening bank mereka. Tapi, apakah pandangan itu tepat? Belum tentu.

Memiliki aset yang banyak atau dana melimpah di rekening, tidak selalu berarti keuangan kamu sudah sehat. Perlu pemeriksaan kesehatan keuangan (financial check-up) secara cermat untuk mengetahuinya.

Dengan mengetahui kondisi kesehatan keuangan yang sebenarnya, kamu akan terbantu menyusun strategi keuangan yang lebih sesuai dan realistis. Kamu juga bisa tahu apa masalah keuangan yang perlu diselesaikan supaya kondisi finansial lekas membaik. Nah, supaya mudah, kamu bisa melakukan cara mudah untuk financial check-up dengan mengecek indikator-indikator keuangan berikut ini:

1. Rasio Utang (Debt to Service Ratio)

Cara pertama untuk mengukur sehat atau tidaknya keuangan kamu adalah dengan mengetahui angka rasio utang atau debt to service ratio. Secara harfiah, rasio ini mengukur kemampuan kamu membayar cicilan utang pada periode tertentu. Rasio ini penting untuk diketahui, karena keuangan yang terlalu banyak terbebani cicilan utang adalah indikasi termudah keuangan yang buruk. Utang yang berlebihan berisiko menjatuhkan keuangan kamu dalam kondisi defisit. Selain itu, beban utang yang melampaui batas, akan menyulitkan kamu memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan asuransi juga investasi.

Cara menghitung rasio utang ini mudah saja. Pertama, terlebih dulu tulis daftar beban cicilan utang yang saat ini kamu tanggung setiap bulan lalu jumlahkan semuanya. Cicilan utang di sini termasuk cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), kartu kredit, paylater, dan jenis kredit-kredit lain yang kamu miliki.

Kedua, totalkan seluruh jumlah pendapatan yang rutin kamu peroleh setiap periode tertentu (dalam bulan atau tahun). Ketiga, bagilah total nominal cicilan utang per bulan dengan total nilai pendapatan per bulan. Angka yang dihasilkan adalah dalam satuan persentase. Angka ideal adalah di bawah 30%. Bila hasilnya di atas 30%, maka itu indikasi bahwa keuangan kamu tidak sehat karena beban utang terlalu banyak sehingga memakan lebih dari 30% pendapatan rutin.

2. Rasio Likuiditas

Indikator selanjutnya yang bisa kamu hitung sendiri untuk mengecek kesehatan keuangan adalah rasio likuiditas. Sesuai namanya, rasio ini melihat apakah kamu memiliki cukup aset likuid yang bisa segera digunakan manakala kamu membutuhkan sokongan dana tunai segera. Rasio ini juga sering disebut sebagai rasio dana darurat mengingat yang dicek adalah kecukupan dana darurat yang dimiliki seseorang.

Rumus perhitungannya tidak sulit. Pertama, jumlahkan semua aset kamu yang sifatnya likuid seperti dana tunai, dana di tabungan bank, deposito, emas, obligasi jangka pendek, reksa dana pasar uang dan sebagainya. Kedua, ketahui jumlah pengeluaran kamu setiap bulan. Ketiga, bagilah antara nilai aset likuid tersebut dengan angka pengeluaran bulanan kamu.

Angka ideal adalah minimal sebesar 6 bulan. Sebagai gambaran, total nilai aset likuid kamu adalah Rp100 juta. Sedangkan pengeluaran per bulan mencapai Rp10 juta. Maka, rasio likuiditas kamu adalah  Rp100 juta/Rp10 juta= 10 bulan. Bila angkanya di bawah 6 bulan, itu artinya keuangan kamu masih belum sehat dan perlu ditingkatkan nilai aset likuidnya.

3. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas membantu kamu untuk mengukur seberapa besar kekuatan keuangan kamu menghadapi ancaman kebangkrutan. Seseorang bisa disebut dalam kondisi bangkrut ketika ia memiliki total utang yang nilainya melebihi total aset karena hal itu berarti nilai bersih kekayaannya negatif. Rasio solvabilitas menunjukkan dalam persentase tingkat kemungkinan kebangkrutan kamu.

Cara hitungnya mudah. Pertama, jumlah dahulu nilai total kekayaan bersih. Nilai kekayaan bersih bisa kamu dapatkan dari total aset yang kamu miliki dikurangi dengan total kewajiban (utang jangka pendek, menengah dan panjang). Kedua, jumlahkan nilai total aset kamu. Ketiga, bagilah nilai kekayaan bersih dengan nilai total aset.

Sebagai contoh, nilai kekayaan bersih kamu adalah Rp2 miliar. Sedangkan nilai total aset mencapai Rp3,5 miliar. Dengan demikian rasio solvabilitas kamu adalah Rp2 miliar/Rp3,5 miliar = 57,14%. Artinya, kondisi keuangan kamu masih akan bertahan kendati suatu saat terjadi penurunan nilai aset sebesar 57,14% sebelum kamu benar-benar divonis bangkrut.

4. Rasio Tabungan (Saving Ratio)

Keuangan pribadi yang sehat dicirikan oleh kepemilikan aset berupa tabungan yang memadai. Untuk mengetahui memadai atau tidak nilai tabungan, kamu bisa menghitung rasio tabungan. Caranya, jumlahkan keseluruhan nilai tabungan kamu dengan nilai pendapatan bruto. Rasio tabungan ini digunakan untuk menilai berapa persen dari pendapatan yang kamu sisihkan untuk penggunaan atau konsumsi di masa depan, dalam bentuk simpanan atau tabungan.

Angka ideal adalah minimal sebesar 10%. Bila di bawah itu, hal itu berarti kamu masih kurang banyak menyisihkan pendapatan untuk tabungan hari depan.

5. Rasio Aset Investasi Terhadap Kekayaan Bersih

Rasio ini disebut juga Nett Investment to Networth Ratio. Yaitu, rasio yang membandingkan nilai aset investasi seseorang dibandingkan dengan nilai bersih kekayaannya. Rasio ini menjadi salah satu indikator kesehatan keuangan kamu. Pasalnya, rasio ini memperlihatkan seberapa baik kamu dalam menginvestasikan total kapitalnya. Angka minimal rasio ini adalah 50%. Semakin besar angkanya semakin bagus.

Cara menghitungnya adalah jumlahkan terlebih dulu nilai total aset investasi yang kamu miliki. Yang termasuk aset investasi adalah investasi kamu di berbagai produk mulai dari reksa dana, deposito, saham dan instrumen investasi lain. Lalu, bagi nilai aset investasi tersebut dengan nilai bersih kekayaan. Itulah rasio aset investasi kamu.

Bila ternyata angkanya masih di bawah 50%, ada baiknya kamu berusaha meningkatkannya secara bertahap. Caranya adalah dengan memperbanyak investasi di berbagai produk yang sesuai dengan tujuan keuangan kamu. Banyak instrumen investasi yang bisa kamu pertimbangkan semisal investasi syariah, salah satunya adalah melalui reksa dana syariah. Reksa dana syariah cocok untuk Sobat Principal yang ingin menempatkan dana sesuai dengan syariat Islam, sebab proses pengelolaannya mengikuti prinsip syariah.

Itulah 5 indikator yang bisa membantu kamu menilai apakah keuangan pribadi kamu sudah cukup sehat atau masih perlu perbaikan. Tidak sulit, bukan, Sobat Principal?

 

 

Dapatkan panduan lengkap tentang serba-serbi ibadah haji langsung ke email kamu!

Dapatkan informasi haji terkini langsung ke email kamu.

Saya memahami dan mengizinkan pengumpulan, penggunaan, dan pengungkapan data saya untuk tujuan terkait.