Diterbitkan pada 4 Mei 2021 

Saat ini, Badan Pengelola Keuangan Haji (BKPH) sedang gencar-gencarnya mendorong para generasi muda untuk menunaikan ibadah haji. Apalagi, rukun islam ke-5 ini merupakan ibadah yang sangat menyenangkan, karena memiliki unsur wisata di dalamnya. Namun seperti Sobat Principal ketahui, berhaji sangat berbeda dengan jenis ibadah lainnya karena tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga materi, spiritual, dan ilmu pengetahuan.


Dilansir dari Republika.co.id, direktur Pusat Kajian Hadis, Dr. Luthfi Fathullah mengatakan, makna haji saat ini mengalami sedikit pergeseran. Berhaji saat ini menjadi media untuk memersatukan seluruh umat islam di dunia. Dalam melaksanakan ibadah haji, kegiatan yang dilakukan tidak hanya bersifat wajib, seperti thwaf, sai, wukuf, lempar jumrah, dan tahalul. Namun, ada pula aktivitas kerja sama dalam memberikan informasi antarnegara yang mengirimkan jamaah haji dan transaksi perdagangan yang semuanya memiliki nilai ibadah.


Itulah mengapa, semua umat islam yang mampu dan telah memiliki syarat tertentu wajib untuk berhaji. Apabila, makna mampu di masa lalu berkaitan dengan kondisi fisik dan materi, kini arti mampu berkaitan dengan adanya kesempatan dalam bentuk kuota haji. Meningkatnya jumlah jamaah haji yang semakin tinggi setiap tahunnya sering kali tidak sebanding dengan tempat yang ada untuk menampung. Inilah mengapa, antrean untuk mencapai kuota haji bisa sampai hitungan tahun.

Tiga Segmen Khusus Haji Muda
Sayangnya, dari tingginya minat untuk beribadah haji, minat pemuda Indonesia masih sangat sedikit. Inilah yang kemudian membuat BPKH di tahun 2021 ini, secara khusus menyiapkan 3 segmen haji muda. Tiga segmen yang dimaksud di sini adalah haji usia dini bagi anak-anak di usia 6 tahun ke atas, haji muda untuk generasi tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dan haji eksekutif bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas.

Menurut Iskandar Zulkarnain, anggota BPKH, salah satu faktor yang mendorong adanya transformasi program haji muda adalah hasil Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (Munas MUI) tentang pendaftaran haji di usia dini pada Desember 2020 lalu.  Faktor lainnya adalah hasil rapat dengan panitia kerja Komisi VIII DPR yang sepakat untuk mengubah pendaftaran haji yang tadinya minimal untuk anak usia 12 tahun, menjadi anak usia 6 tahun.

Dalam kesempatan ini, BPKH juga ingin mengampanyekan haji muda sebagai salah satu media untuk meningkatkan kesadaran umat islam di Indonesia, agar memiliki budaya menabung haji sejak dini. Mengingat, ibadah haji merupakan ritual wajib bagi seluruh umat islam. Tidak berhenti sampai di sana saja, haji juga merupakan proses hijrah yang penting untuk membentuk kesalehan sosial dalam diri umat islam. 

Pada Juli 2020, BPKH melaporkan bahwa sesungguhnya ada peningkatan dalam jumlah pendaftar haji usia muda sejak tahun 2018. Dari yang tadinya pendaftar haji di bawah usia 30 tahun hanya 17 persen meningkat menjadi 43 persen. Namun, jumlah ini dirasa masih kurang, karena faktanya pendaftar haji usia 40-60 tahunlah yang masih sangat tinggi.

Profesor Dr. Huzaemah T. Yanggo, wakil ketua komisi fatwa MUI, juga turut memberikan motivasi agar semakin banyak kaum milenial yang ‘berani’ untuk menjadi haji muda. “Kapan pun dan siapa pun boleh mendaftar haji, asalkan uangnya halal serta keperluan pokok sudah terpenuhi. Selain itu, pergi haji di usia muda tentu lebih baik, mengingat antrean keberangkatannya akan sangat panjang,” jelasnya. 

Yuk, mantapkan hati untuk bisa menjadi Haji Muda dengan mulai rencanamu sekarang. Makin dini dimulai, makin cepat bisa berangkat. Jalani ibadah juga bisa lebih semangat karena kondisi fisik masih ok banget. Yuk bisa yuk!


 

Saya memahami dan mengizinkan pengumpulan, penggunaan, dan pengungkapan data saya untuk tujuan terkait.