Mencapai Haji Mabrur, Kenali Ciri dan Caranya Yuk!

Bagi seorang muslim, keinginan untuk memenuhi panggilan ke tanah suci menjadi impian yang sebisa mungkin diwujudkan. Jika kita cukup beruntung untuk bisa menunaikan ibadah ini, ada baiknya mempersiapkan diri untuk mengenal dan melengkapi syarat kemabruran ibadah haji kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR. Bukhari & Muslim).

Apa itu haji mabrur?
Mabrur berasal dari bahasa Arab, yaitu "barra-yaburru-barran", yang artinya taat berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, mabrur berarti ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. Adapun seorang haji yang mabrur adalah seseorang yang mampu menahan diri dari dosa sampai kematiannya dan tidak melakukan perbuatan yang menyia-nyiakan hajinya.

Setelah memahami arti dari haji mabrur, bagaimana cara kita mempersiapkan dan melaksanakan ibadah ini agar tidak sia-sia dan terjaga kesuciannya?

Mempelajari Ilmu Manasik Haji
Manasik haji adalah tata cara melaksanakan ibadah haji, mulai dari berpakaian ihram, miqat, tawaf, sai, wukuf di Arafah, melempar jumrah, tahallul, dan lain sebagainya. Selain itu ada juga 6 wajib haji yaitu ihram haji dari mīqāt, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram, dan thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah. 
Hal ini perlu dilakukan agar jemaah haji tidak melakukan kesalahan dan kekeliruan yang dapat menjadikan ibadah hajinya tidak sah dan dapat membuka kemungkinan ibadah haji yang dilakukan tidak mabrur.
Ilmu manasik haji dapat dipelajari melalui kitab-kitab, buku-buku manasik haji, atau bertanya langsung kepada pemuka agama dan orang yang sudah melaksanakan ibadah haji. Sobat Principal yang masih dalam proses menyiapkan dana haji atau menunggu keberangkatan bisa mulai mempelajari ini dari sekarang.

Biaya haji berasal dari sumber yang halal
Aspek yang wajib diperhatikan adalah menjaga kesucian keseluruhan ibadah. Islam menjaga kebaikan ibadah mulai dari niat, syariat dan hal-hal pendukung dalam pelaksanaan ibadah. Sehingga pastikan sumber dana yang Sobat Principal gunakan jelas asalnya dan terjaga kehalalannya ya.
Untuk Sobat Principal yang mempersiapkan dana haji melalui pasar modal, pilih instrumen investasi yang berasal dari pasar modal syariah. Sebab pasar modal konvensional pengawasannya hanya dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek indonesia. Pada pasar modal syariah, selain dua lembaga tersebut, ada DSN MUI juga ikut mengawasi berjalannya pasar modal syariah agar sesuai dengan prinsip Islam.
Sehingga jangan kuatir jika dana haji disiapkan melalui instrumen investasi syariah. Pastikan sumbernya halal, pengelolaannya mengikuti aturan islam, insya Allah hasilnya akan baik digunakan untuk ibadah.

Seseorang yang menunaikan ibadah haji sama dengan mengeluarkan perbelanjaan dengan ikhlas, maka akan diganti dengan kebaikan dan berkah serta kemudahan rezeki yang luas. Sebuah riwayat dalam buku yang sama mengatakan, mengeluarkan perbelanjaan untuk haji pahalanya sama dengan Sabilillah yaitu setiap dirham diganti dengan 70 kali lipat.

Menjaga Hati
Saat melaksanakan ibadah haji, kita perlu menjaga kesucian niat dan ketulusan tindakan sehari-hari selama menunaikan ibadah haji, menjaga kekhusyuan, serta menjalankan tata cara ibadah dengan tertib.

Selain itu, selama menjalankan ibadah haji kita perlu menghindari bersikap sombong, berbangga diri, berburuk sangka, berkata kotor, berbuat kefasikan, maupun tindakan lain yang termasuk dalam akhlak tercela. Usahakan juga selama menjalankan ibadah haji, hati harus selalu khusyuk dan penuh dengan kesabaran. Hal tersebut dapat dilakukan dengan doa dan dzikir.

Di tanah suci kamu mungkin akan banyak menemui cobaan. Berusahalah untuk selalu tenang dan berkepala dingin agar bisa fokus pada yang hal utama, yaitu rukun dan wajib haji. Seseorang yang sedang dan telah melakukan ibadah haji harus mampu membawa perbaikan diri, baik akhlak dan tingkah laku. Kita diharapkan memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, tutur kata yang semakin lembut dan baik, ilmu dan amalan yang benar, serta lebih istiqamah.

Menjauhkan diri dari sifat tercela
Menjauhi larangan Allah, seperti rafats, fusuq, dan juga jidal merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjadi haji mabrur. Rafats artinya berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna atau mengucapkan kata-kata kotor. Fusuq adalah perbuatan yang melanggar ketaatan kepada Allah. Sementara itu, jidal artinya sikap berbantah-bantahan, bertengkar, atau bahkan baku hantam. Ketika sifat tercela tersebut harus benar-benar bisa kita hindari agar ketika pulang dari berhaji, sifat kita akan semakin baik dibandingkan sebelumnya.

Dengan menjaga diri dari ketiga sifat di atas secara istiqamah selama melakukan ibadah haji, dapat membantu kita mencapai kemabruran ibadah haji.

Dari berbagai cara menuju haji mabrur di atas, siapkan diri kita mulai sekarang agar saat impian berhaji kita terwujud, kebiasaan-kebiasaan baik sesuai anjuran agama sudah menjadi keseharian sehingga kebaikan yang kita lakukan tidak hanya pada saat beribadah haji saja, namun diterapkan sepanjang hayat. 

Jangan sampai ibadah haji yang kita laksanakan menjadi sekadar gugur kewajiban (maqbul) atau bahkan ditolak (mardud) ya, Sobat Principal!

Saya memahami dan mengizinkan pengumpulan, penggunaan, dan pengungkapan data saya untuk tujuan terkait.